Komisi Ypk kembali membuka kelas seleksi dan perpanjangan bagi pemohon beasiswa untuk tahun ajaran 2008-2009 dengan persyaratan sbb :

  1. Diutamakan telah menjadi anggota Gereja Kristus Bogor. Pada keadaan khusus, komisi beasiswa dapat mempertimbangkan pemberian beasiswa dimana tunjangan beasiswa dianggap layak untuk diberikan namun persyaratan keanggotaan Gereja Kristus Bogor belum / tidak terpenuhi.

  2. Mengajukan permohonan secara tertulis kepada Badan Pengurus Komisi Beasiswa dilengkapi dengan forocopy kartu keluarga, raport (tahun terakhir), NEM clan STTB, rekening listrik clan PDAM, serta informasi biaya studi yang akan ditempuh. Berkas tersebut dapat disampaikan paling lambat tanggal 30 April 2008.

  3. Keadaan ekonominya dinilai perlu untuk menerima beasiswa. Untuk itu diwajibkan adanya rekomendasi tertulis dari pengurus wilayah setempat (bagi anggota GKB) atau sponsor / perantara (bagi bukan jemaat GKB).

  4. Nilai rata-rata raport minimal 7 untuk SD s/d SLTA clan IPK minimal 2,75 untuk program diploma clan S1.

  5. Wawancara diselenggarakan oleh Badan Pengurus Beasiswa setiap menjelang tahun ajaran bare atau setiap kali dianggap perlu.

  6. Bagi pemohon beasiswa yang berasal dari anggota GK Pos Ciampea-Leuwiliang, rekomendasi dilakukan oleh Badan Pengurus Wilayah Ciampea - Leuwiliang untuk selanjutnya diserahkan kepada Komisis Beasiswa.



Bapa … Aku ingin sekolah

(Diangkat dari kisah nyata)

   

Segelas air putih terletak di meja kayu. Lelaki itu mengangkatnya untuk terakhir kali dan diteguknya habis. Sejak kemarin siang belum ada satu butir nasipun yang singgah di perutnya... hanya air putih. Itupun dari air sumur di belakang. Kata orang air itu kotor dan tidak layak untuk diminum. Tapi apakah orang masih bisa berpikir kesehatan, higienis atau tidak, ketika tidak ada lagi pilihan? Tadi pagi dia hanya memanasi air itu dengan alat pemanas kecil yang diperolehnya beberapa waktu lalu hasil pemberian dari seseorang. Dipandangnya gelas yang kosong. Baginya hanya minum air masih bisa bertahan. Bagaimana dengan dua anak dan istrinya? Tanyanya dalam hati sambil menghela nafas panjang. Sejak kemarin persediaan beras sudah habis. Mau hutang pada tetangga sudah tidak mungkin lagi. Sudah banyak tetangga yang dimintai tolong untuk meminjaminya uang atau beras. Satupun belum ada yang dia bayar. Dia malu bila harus datang lagi ke salah satu dari mereka untuk meminjam uang atau beras.

  
Lelaki itu berjalan keluar. Berdiri diambang pintu rumah kontrakan. Sebuah pintu yang sempit dari sebuah kamar ukuran 3 X 4 meter. Inilah rumahnya, satu dari sekian deretan rumah petak. Dilihatnya beberapa anak bersiap-siap berangkat ke sekolah.

Maria, anaknya yang tertua masih duduk di kelas II SD. Dia baru selesai mandi di kamar mandi umum. Sebentar lagi dia akan berangkat ke sekolah juga. Lelaki itu menghela nafas kembali. Apakah Maria akan bolos sekolah lagi? Keluh hatinya. Kemarin Maria sudah bolos 3 hari. Bukan karena sakit atau malas, melainkan tidak ada uang saku untuk naik angkot. Untuk anak sekolah, sekali jalan dia harus bayar Rp 1000. Kalau pergi pulang sudah Rp 2000. Darimana dia dapat uang Rp 2000?

  
Sekolah Maria cukup jauh. Dulu dia sengaja menyekolahkan Maria di sekolah ini, sebab dia ingin anaknya memperoleh pendidikan yang bermutu dan masih bernuansa Kristen. Ketika masih bekerja semua bisa diatasi. Setelah tidak bekerja, dia sudah dua kali memohon keringanan dari  kepala sekolah dan sekarang Maria tinggal membayar separuh dari uang sekolahnya semula. Namun ini masih sangat terasa berat sekali. Sekarang sudah 2 bulan Maria belum membayar uang sekolah.

Pernah dia meminta bantuan pada seseorang ternyata tidak diberi, melainkan mendapatkan jawaban yang sangat menyakitkan hati. Dengan angkuh orang itu mengatakan "kalau memang tidak mempunyai uang mengapa disekolahkan disana?" - Siapakah yang tahu bahwa dia akan ter-PHK? - Siapakah yang tidak ingin menyekolahkan anaknya di tempat yang baik?.

Sekali lagi lelaki itu menghembuskan nafas kesal. Dia kesal pada diri sendiri. Mengapa tidak bisa menemukan pekerjaan? Sudah hampir 6 bulan dia menganggur. Semula dia bekerja di sebuah perusahaan yang cukup baik. Tapi karena pemimpinnya korupsi, maka perusahaan menjadi bangkrut. Semua karyawan di PHK tanpa pesangon. Mau menuntut pada pemilik perusahaan tampaknya tidak mungkin sebab dia sekarang masuk dalam penjara. Hartanya disita. Dia dituduh menggelapkan uang milik seseorang dan terjerat hutang di sebuah bank.

  
Selama 6 bulan ini sudah banyak kertas lamaran dibuat. Sudah banyak perusahaan dimasukinya, tapi semua jawabannya sama: “Tidak ada lowongan!”, atau yang lebih agak halus: “Tunggu panggilan!”.

Satu demi satu apa yang dimilikinya dari hasil bekerja sekian tahun telah dijualnya. Tempat tinggal dari kontrakan satu rumah menjadi sebuah kamar. Makan pun kini sudah semakin susah. Setiap hari hanya berpikir kepada siapa dia akan hutang lagi?.

Dilihatnya matahari yang cerah menyinari genting yang berjajar rapat. Apakah kalau dia pulang ke daerah asal semua akan beres? - Apakah disana ada pekerjaan? - Bukankah dia sampai merantau  ke kota sebab di daerahnya tidak ada lagi yang bisa dijadikan pegangan untuk hidup?.

Orang tuanya hanya mewariskan sepetak tanah gersang yang sangat minim hasilnya. Di desa dia akan semakin tidak berdaya. Belum lagi pendidikan anak-anaknya.  Pasti disana tidak akan terjamin.

      

Lelaki itu terus termenung di depan pintu. Mau kemana lagi hari ini? Apakah yang bisa dimakan hari ini? Dia melihat Maria sudah berpakaian seragam. Hatinya pedih kalau melihat Maria dengan pakaian seragam dan siap berangkat sekolah. “Lebih baik kamu tidak masuk saja hari ini,” kata lelaki itu sambil menatap Maria. “Aku malu diolok-olok temanku kalau aku bolos sekolah,” Maria mulai menangis minta sekolah. Hati lelaki itu bagai diremas. Hancur luluh. Semua kata tercekat di tenggorokan. Maria semakin keras menangis. Dia ngotot mau sekolah sebab malu diejek teman-teman di kampung dan di sekolah. Istrinya datang dari sumur. Dia marah ketika mendengar Maria menangis. Maria yang sudah sedih hati semakin sedih. Tangisnya semakin keras. Istrinya merasa tidak didengarkan maka dia mulai berteriak-teriak agar Maria berhenti menangis. Lelaki itu hanya mampu terdiam di ambang pintu. Teriakan istrinya dan tangis Maria seperti dua besi yang menjepit kepalanya sehingga mau pecah.

 

Semua tidak salah. Istrinya pun jengkel akan situasi hidup yang membuat tegang. Maria yang belum faham dengan kesulitan orang tuanya hanya mampu menangis. Kamar menjadi ribut.  Istrinya mulai mengomel panjang lebar. Suaranya keras menusuk jiwa. Lelaki itu hanya membisu. Didekatinya Maria dan digendong keluar. Dia tidak ingin anaknya semakin disakiti dengan perkataan istrinya. Permintaan Maria sangat wajar, dia ingin berangkat sekolah. Dia tidak  meminta apa-apa selain sekolah. Maria dan adiknya memang anak yang baik. Mereka tidak pernah menuntut. Makan hanya dengan nasi dan garampun mereka diam saja, meski banyak temannya makan nasi dengan lauk dan sayur. Mereka jarang sekali meminta jajan. Mereka  seolah faham dengan aneka kesulitan yang dialami oleh orang tuanya. Kini dia menangis sebab sudah tidak tahan diolok-olok temannya sebagai pemalas yang suka membolos. Namun lelaki itu tidak mungkin menerangkan pada Maria tentang kesulitan hidupnya.

 

Maria terus menangis dalam gendongannya. Dia meronta-ronta ingin turun dan berangkat ke sekolah. Lelaki itu berjalan menghampiri tetangga, siapa tahu masih ada orang yang berbaik hati mau memberi pinjaman uang Rp 2000 untuk ongkos angkot. Seorang tetangga akhirnya menyodorkan dua lembar ribuan. Maka dengan segala bujuk rayu akhirnya Maria mau diam dan bersiap ke sekolah walaupun dia belum makan. Di rumah hanya ada air putih dari sumur.

Apakah dia akan kuat belajar sampai siang nanti?

(DW)

Back to Top